Berita Koran Kedaulatan Rakyat

12 02 2009

Pendaki Merapi Perlu Simaksi

oleh: Arif Sulfiantono 12/02/2009 08:34:05

ENAM mahasiswa Fakultas Teknik UGM selama dua hari tersesat di Gunung Merapi. Saat ditemukan, dalam keadaan lemas akibat kelaparan, bahkan satu di antaranya mengalami patah tulang tangan (KR, 4 Februari 2009). Kawasan Konservasi Alam Tahun 2004 wilayah Gunung Merapi ditunjuk menjadi Taman Nasional Gunung Merapi (TN G Merapi) berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 134/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 dengan luas 6.410 Ha yang terletak di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Magelang, Klaten, dan Boyolali Propinsi Jawa Tengah.

Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi merupakan alih fungsi dari hutan Taman Wisata Alam/Cagar Alam Plawangan Turgo, Hutan Lindung Kaliurang dan sebagian hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani. Taman Nasional sendiri adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Sedangkan kawasan konservasi sendiri adalah bagian dari wilayah daratan atau lautan yang perlu dan secara sengaja disisihkan dari segala bentuk eksploitasi untuk dilindungi dan dimanfaatkan secara bijaksana sesuai dengan fungsinya, sehingga terjamin keberadaannya bagi generasi saat ini dan masa yang akan datang.

Penetapan sebagai TN G Merapi didasarkan oleh kawasan TN G Merapi mempunyai nilai penting sebagai daerah perlindungan sistem penyangga kehidupan, khususnya fungsi perlindungan hidro-orologis dan iklim bagi masyarakat di Propinsi DIY dan kabupaten yang berada di sekitar kawasan, yaitu Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali. Seain itu, perannya sebagai pengawetan keanekaragaman hayati dapat dijadikan sebagai sumber plasma nutfah bagi kehidupan manusia.Manfaat lain, baik langsung maupun tidak langsung yang dapat diperoleh dari kawasan ini. Peran lainnya adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan dan latihan, penunjang budidaya dan pariwisata. Jalur Pendakian Gunung Merapi Pendaki Gunung Merapi dapat memilih salah satu dari empat jalur pendakian, yakni jalur Babadan, Magelang, jalur Kinahrejo, Sleman, jalur Deles, Klaten, dan jalur Selo, Boyolali. Jalur Selo adalah jalur paling mudah untuk pendakian, dibandingkan jalur lain. Untuk jalur Babadan dan Kinahrejo masih ditutup untuk jalur pendakian, dikarenakan jalur rusak akibat erupsi Merapi tahun 2006.

Pendaki Gunung Merapi sebelum melakukan pendakian diwajibkan untuk membawa Simaksi dan melapor ke pos terdekat di jalur pendakian.Berdasarkan berita di KR, 4 Februari 2009, enam mahasiswa pendaki dari UGM itu menggunakan jalur Selo untuk menuju puncak Merapi. Penulis mengecek ke Polisi Kehutanan (Polhut) Balai TN G Merapi resort Selo, ternyata dalam daftar pendaki Gunung Merapi yang ada di pos Selo tidak terancam daftar nama keenam mahasiswa pendaki tersebut. Simaksi untuk Pendaki Merapi Balai TN G Merapi sebagai pengelola TN G Merapi mengeluarkan aturan dan tata tertib bagi pengunjung TN G Merapi, termasuk pendaki puncak Gunung Merapi. Hal ini didasarkan untuk menjaga dan melindungi kawasan TN G Merapi dari berbagai macam gangguan terhadap ekosistem Gunung Merapi. Tata tertib dan aturan tersebut dikenal dengan SIMAKSI, yakni Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi.

SIMAKSI dibuat berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Nomor: SK.192/IV-Set/HO/2006 tentang Izin Masuk Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam dan Taman Buru. Berikut adalah Tata Tertib memaski TN G Merapi untuk pengunjung maupun pendaki Gunung Merapi:

  1. Pengunjung hanya diperbolehkan berada di jalur yang telah disediakan.
  2. Pengunjung tidak boleh merusak, menebang pohon maupun memindahkan benda-benda yang ada dalam kawasan Tn G Merapi.
  3. Pengunjung tidak boleh membawa tumbuhan maupun satwa liar dari dalam maupun ke luar kawasan TN G Merapi.
  4. Pengunjung tidak diperbolehkan membawa alat/bahan yang dapat mencemarkan kawasan seperti alat bunyi-bunyian, sabun, pasta gigi, spidol, phylox, cat, pestisida dan sebagainya.
  5. Semua sampah diharap dibawa ke luar kawasan TN G Merapi.
  6. Pengunjung yang akan berkemah/menjelajah alam/hingking diharuskan membawa makanan/ minuman secukupnya, jaket, jas hujan, lampu senter/lampu penerangan, baju ganti dan P3K.
  7. Pengunjung tidak diperkenankan membawa senjata tajam (kecuali yang digunakan untuk berkemah), dan atau minuman beralkohol serta obat-obatan terlarang.
  8. Pengunjung diharapkan menghindari membuat api unggun kecil untuk kegiatan berkemah dapat dilaksanakan di tempat yang telah disediakan menggunakan kayu bakar yang dibawa dari luar kawasan TNGM.
  9. Petugas akan memeriksa barang bawaan dan surat izin (Simaksi) sebelum dan sesudah memasuki kawasan.

Adapun untuk Tata Cara Pengajuan Izin Kegiatan di Kawasan TN G Merapi atau Pengajuan Simaksi (Pengumuman No PG. 04/IV-T.43/Um/2008) sebagai berikut:

  1. Simaksi diberlakukan terhadap semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam Taman Nasional Gunung Merapi dan pelayanan perizinan (Simaksi ) ini terpusat di kantor Balai TN G Merapi, berupa: penelitian, survei, pengambilan data, pengambilan/snapshoot film komersial, video komersial, handycam dan foto, praktik lapangan, kampanye/sosialisasi/pameran, rehabilitasi kawasan, penanaman, berkemah, mendaki gunung, out bond, hiking, diklat-diklat dengan lokasi praktik di dalam kawasan TN G Merapi.
  2. Pemohon mengajukan surat permohonan dengan ketentuan mengajukan permohonan secara tertulis/resmi yang ditujukan kepada Kepala Balai TN G Merapi minimal seminggu sebelum pelaksanaan kegiatan dilengkapi dengan proposal kegiatan, dua buah materai Rp 6.000 dan membayar pungutan masuk/pungutan kegiatan lain-lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  3. Pemegang Simaksi harus mematuhi segala peraturan dan prosedur yang termuat dalam Simaksi.
  4. Pemegang Simaksi wajib didampingi oleh petugas dari Balai TNGM dalam melaksanakan kegiatan di dalam kawasan.
  5. Pemegang Simaksi wajib menyerahkan copy dokumentasinya dan laporan kegiatannya kepada Balai TN G Merapi.
  6. Untuk melaksanakan kegiatan di kawasan TN G Merapi, dikenakan beberapa pungutan/tiket masuk (berdasarkan PP No 59 tahun 1998).

Pengunjung maupun pendaki Gunung Merapi dapat memperoleh Simaksi di kantor Balai TN G Merapi di Jl Argulobang No 17 Baciro, Yogyakarta, telepon 560669. Simaksi merupakan salah satu alat untuk menjaga dan melindungi kawasan TN G Merapi, sehingga terjaga kelestariannya. Di samping itu, SIMAKSI juga dapat berperan sebagai kontrol bagi pengunjung maupun pendaki yang akan melakukan kegiatan di Gunung Merapi. Diharapkan dengan adanya Simaksi, kecelakaan akibat faktor alam yang buruk dapat dihindari. Polhut Balai TN G Merapi pun akan siap dan sigap melakukan evakuasi jika pendaki yang membawa Simaksi berada dalam kesulitan saat melakukan pendakian. q – c. (248-2009). *) Arif Sulfiantono SHut MSi, Calon Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai TN G Merapi.

Sumber :

Koran Kedaulatan Rakyat dalam kolom opini public tanggal 12 Februari 2009





Rumahku

12 02 2009

Sekretariat GEGAMA

Pancaran sinar matahari adalah tenaga yang setiap hari membangunkan para penghuni sekretariat dengan menyikap dingin yang menyelimutinya.Kehidupan kampus Geografi itu mulai hidup.Terdengar suara bising lalu lalang kendaraan bermotor.Seorang laki – laki keluar dengan secangkir kopi dan sebatang rokok duduk di kursi yang didepannya terdapat sebuah meja hitam yang diatasnya berserakan kertas dan kartu remi.

Rumah yang sepi dengan bentuk bangunan yang kecil dan terkesan diluar cluster UKM Fakultas Geografi diantara bangunan yang menjulang tinggi di Kampus Geografi.Sehingga itu merupakan keunikan tersendiri di lingkungan kami.Tidak seperti biasanya geliat aktivitas di rumah ini kurang begitu ramai.Apa karena masa liburan semester atau kesibukan penghuninya dengan berbagai keberagaman kepentingan?

Tetapi hal itu tidak berjalan lama,satu demi satu anggota mulai menyempatkan diri singgah di rumah itu.Rumah kedua kami adalah tidak lain sekretariat yang merupakan tempat kami melakukan segala aktivitas selain kuliah baik itu ngobrol ,sejenak melepaskan lelah setelah kuliah dan sebagai suatu pusat informasi segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan kepencintaalaman.Rasa kebersamaan dan kekeluargaan mulai timbul disini.

Sejalan dengan waktu kondisi Sekretariat GEGAMA mengalami renovasi dari tahun ke tahun.Pada awalnya yang tidak memiliki atap di depan halaman sekretariat sampai sekarang yang kami anggap ideal untuk menjalankan kegiatan keorganisasian dengan memiliki 3 ruang yang masing – masing difungsikan sebagaimana mestinya.Yang dulunya gudang di fungsikan untuk rapat dan gudang peralatan gegama pindah di dekat laboratorium Hidrometeorologi yang dulunya bekas ruang dapur fakultas.Adanya program pembangunan Pusat UKM di lingkungan Fakultas Geografi yang dibangun tepat dilahan Sekretariat GEGAMA dengan sempat melakukan upacara peletakan batu pertama sampai saat ini belum terealisir dengan baik bahkan berhenti untuk beberapa saat.

Sekretariat yang selama ini merupakan ruang bagi kami untuk melakukan aktivitas keorganisasian dalam bidang kepecintaalaman walaupun tampak kotor ,berantakan dan tidak tertata rapi memberikan pemandangan yang biasa setiap harinya,yang penting penghuninya merasa nyaman.Namun dari tempat ini timbul berbagai ide – ide dan gagasan yang kreatif ,inovatif dan cemerlang sebagai suatu yang mensupport perkembangan organisasi GEGAMA ke arah dan tujuan organisasi yang lebih baik.





GUNUNG HUTAN

12 02 2009

Cerita dari Pendakian Gunung Gede – Pangrango

Oleh Tim Pendakian Gede – Pangrango

Tidak seperti biasanya,beberapa hari lamanya upacara yang selalu menjadi rutinitas bagi para anggota gegama apabila akan melakukan kegiatan operasional dilaksanakan pada waktu siang atau sore hari di depan Sekretariat.Pagi subuh itu upacara dilaksanakan karena rencana kami tepat pukul 05.00 sudah harus berangkat menuju Bandung.Upacara yang dihadiri oleh beberapa teman – teman pengurus dilakukan seperti biasanya diisi dengan wejangan dan nasehat bahwa perjalanan kami memiliki suatu tujuan dan tim kami harus mencapai tujuan itu dengan rasa kebersamaan walaupun mata kami sayup – sayup masih terasa ingin tidur selama 1 menit saja untuk menghilangkan rasa ngantuk yang merajalela.Meskipun kondisi cuaca hujan saat berangkat ke Stasiun Tugu tidak akan menyurutkan semangat kami untuk melanjutkan perjalanan.

Start perjalanan kami dimulai dari Stasiun Tugu ( K.A Prameks ) – Transit di Stasiun Kutoarjo ( K.A Kutojaya ) – Stasiun Kiaracondong – Naik Angkutan Merah – Terminal Luwipanjang ( Bus Jurusan Cianjur ) – Berhenti di Cibodas – Naik angkutan ke Green Ranger ( Base Camp ).

Tema yang kami usung untuk pendakian Gunung Gede – Pangrango adalah Visual Landscape.Dimana kami melihat fenomena alam Taman Nasional Gede – Pangrango dan upaya konservasinya.Anggota tim kami yaitu Tiwul ,Vemo ,Moong ,Gandul ,Sondlot dan Plongoh dengan jobdes masing – masing mulai melakukan persiapan dengan matang.Kesan pertama datang di BC Camp selain udara yang sejuk dan pemandangan yang luar biasa indah suatu bentuk Keagungan Tuhan yaitu perijinan yang sangat sulit karena tidak seperti pendakian di beberapa gunung di jawa yang perijinannya lumayan mudah.Disana apabila ingin mendaki harus pesan tiket dulu minimal 3 bulan sebelum hari pelaksanaan.Persiapan untuk perijinan sudah jauh hari kami urus agar pendakian kami berjalan sesuai yang diharapkan dengan kenalan salah satu anggota kami yang paham betul tentang perijinan Taman Nasional Gede Pangrango membantu kami dalam mensukseskan perijinan pendakian sehingga tidak menimbulkan masalah yang berarti.Tidak hanya perijinan tetapi perencanaan perjalanan baik itu kesiapan fisik dan mental serta tujuan kegiatan ,alokasi dana , perlengkapan dan konsumsi yang disesuaikan dengan lama pendakian sudah kami siapkan dengan matang.

Pendakian dimulai pada pagi hari tepatnya pukul 08.00 pagi,Semua anggota tim sudah siap dengan carier yang dibawa di punggungnya untuk mulai langkah demi langkah menuju jalur pendakian Gunung Gede Pangrango.Pada awal keberangkatan kami harus melalui pos penjagaan ( pintu gerbang jalur pendakian Cibodas – Puncak Gede dan Pangrango ) disana kami disweeping oleh petugas perhutani atas barang bawaan kami.Apabila membawa barang – barang yang tidak sesuai dengan persyaratan maka kami akan di kenai sangsi.Selain itu kami juga diberi dua buah plastik besar untuk tempat sampah selama perjalanan dan dianjurkan memungut sampah yang berada disepanjang jalur pendakian.Program itu merupakan salah satu upaya menjaga kebersihan jalur pendakian dari para pendaki yang usil dalam membuang sampah sembarangan.Kami mulai berpikir bahwa TNGP memang benar – benar dijaga kelestariannya.Selain itu TNGP ditutup pada bulan Januari sampai Mei yang dioptimalkan untuk menjaga kelestarian hutannya.

Kenyamanan yang pertama kali kami rasakan saat memulai perjalanan pendakian karena pohon – pohon keras (tanaman tahunan) yang menjulang tinggi dan masih hijau berada di sekeliling kami dan aliran air sungai yang jernih khas pegunungan sepanjang jalur pendakian memberikan keuntungan bagi kami akan jaminan kebutuhan air selama perjalanan pendakian di jalur pendakian Cibodas – Puncak Gede dan Puncak Pangrango.Berbeda halnya dengan jalur pendakian Gunung Putri – Alun – alun Suryakencana – Puncak Gede dan Puncak Pangrango jalan yang didominasi oleh akar – akar pohon dengan kondisi medan yang terjal dengan sedikit sumber air maka pada jalur ini apabila melakukan perjalanan turun harus hati – hati.Perbedaan kedua jalur tersebut sangat signifikan yang satunya jalur pendakian untuk wisata dengan keindahan alam di sepanjang jalur pendakian.Sedangkan jalur pendakian Gunung putri yang waktu tempuhnya cepat dengan medan yang terjal dan pemandangan alam yang monoton merupakan tantangan tersendiri bagi penggiat alam bebas dalam memacu andrenalinnya.

Dalam perjalanan kami melakukan pengisian check list dan pendokumentasian kegiatan baik dalam bentuk foto dan video serta sedikit wawancara dengan para pendaki dan masyarakat sekitar.Hasilnya berupa deskripsi bentanglahan gunung Gede Pangrango baik biotik , abiotik dan budaya masyarakat sekitar maupun informasi jalur pendakian Cibodas – Puncak Gede dan Puncak Pangrango serta jalur pendakian Gunung Putri – Alun – alun Suryakencana – Puncak Gede dan Puncak Pangrango.Namun jalur pendakian dari Kabupaten Sukabumi yaitu Jalur pendakian Salabintana – Alun-alun Suryakencana – Puncak Gede dan Puncak Pangrango tidak berhasil kami dokumentasikan karena keterbatasan waktu.

Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango ( TNGP ) termasuk dalam wilayah 3 Kabupaten yaitu Kabupaten Cianjur ,Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor.Ketiga Kabupaten itu secara eko-geomorfologis termasuk dalam wilayah ekosistem bentanglahan gunungapi.Secara biofisik termasuk wilayah yang potensial di bagian atas merupakan kawasan lindung yang dapat mendukung kawasan lahan kering dan kawasan lahan basah yang berada dibawahnya atau hilir.Secara bioregion kawasan hutan di puncak mampu menciptakan iklim yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem air,sehingga dapat terbagi rata sepanjang musim,maka kawasan lahan basah mendapatkan efek distribusi air melalui mata air dan sungai untuk menanam padi sawah 3 kali pertahun dan tanaman unggul lainnya.Secara sosial ekonomi budaya ,kondisi ekosistem bentanglahan tersebut memberikan keuntungan sosial ekonomi karena mempunyai produktivitas dan keanekaragaman tinggi dengan tingkat budayanya yang selalu ditingkatkan tampak dari kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.Secara ekologis wilayah ekosistem gunung Gede – Pangrango yang terletak dibagian hulu menjadi tumpuhan perkembangan wilayah ekosistem bentanglahan di daerah bawahnya.

Perjalanan kami tutup dengan suatu pengalaman yang sangat berharga bagi anggota tim baik dalam segi mental,fisik dan penguasaan materi.Maka sekembalinya ke jogja masih terselip banyak PR tentang laporan perjalanan yang harus segera dibuat sebagai suatu informasi untuk kegiatan pendakian gunung kedepannya.





“SEBUAH TAWA DIANTARA JERAM”

14 12 2008

Coming Soon 27 DECEMBER 2008

Location : Ello River, Magelang

For complete information please contact with us,

Actually the Price is not expensive

Niwi (085643225805) or Nanda (085643054304)

SAFETY first and never STOP ADVENTURE!





Iklim dan Kehidupan

20 09 2008

Oleh Sri Kustanti (GGM 19.239)

Klimatologi adalah bagian kecil dari Meteorologi. Dalam mempelajari klimatologi terlebih dahulu perlu diketahui definisi dari cuaca dan iklim. Cuaca adalah keadaan atmosfera di suatu tempat dan waktu tertentu. Jadi pada tempat dan waktu yang berbeda cuaca akan berbeda pula. Adapun iklim adalah jalannya keadaan cuaca atau keseluruhan dari gejala-gejala cuaca di daerah tertentu dalam periode yang lama.

 

Iklim di suatu tempat ditentukan oleh sejumlah unsur iklim seperti suhu, lengas udara, curah hujan, kecepatan angin, lama penyinaran matahari, dsb. Sebenarnya beberapa unsur iklim tersebut merupakan interaksi antara sejumlah faktor iklim yaitu penyebab-penyebab yang menentukan corak iklim, seperti letak lintang, arah angin, relief, tipe tanah, dan vegetasi.

Pengaruh iklim terhadap kehidupan sangat besar, namun demikian ini tidak berarti antara iklim dan kehidupan selalu ada kaitan “sebab-akibat”. Manusia tidak bisa merubah iklim, yang bisa dilakukan manusia hanyalah mempengaruhi pengaruh iklim itu. Misalnya dengan menciptakan rumah kaca, membuat hujan buatan, dll.

Ada tiga wujud pengaruh iklim terhadap kehidupan :

  1. Pengaruh apabila suhu tetap, tetapi jumlah hujan berubah
  2. Pengaruh apabila suhu berubah dan jumlah hujan memadai
  3. Pengaruh iklim dalam waktu atau musim

Pengaruh iklim tersebut tanpa disadari bisa membawa anomali iklim maupun bencana mikro bagi kehidupan. Pada musim pancaroba, arah angin di Kepulauan Indonesia tidak jelas dan tidak ada daerah yang perbedaan tekanan udaranya jelas. Oleh karena itu arah angin senantiasa berubah. Selain itu karena perbedaan pemanasan setempat, tidak jarang angin itu bergerak “berputar” seperti halnya gerakan angin “siklon” atau lebih akrab dikenal dengan istilah angin “puting beliung” atau angin “puyuh”.

Kejadian angin puting beliung atau angin puyuh pada musim pancaroba dapat sedikit diterangkan sebagai berikut :
Pada saat dimana suhu di belahan bumi di sebelah utara seimbang dengan suhu di belahan bumi selata, tekanan udara diatasnya pun tidak akan jauh berbeda. Kejadian tersebut akan terjadi dua kali selama setahun. Musim-musim itulah yang disebut dengan musim pancaroba di Indonesia. Musim pancaroba ini berlangsung kira-kira pada bulan Maret-April dan Oktober-November.

Adanya keseimbangan itu membuat gerakan angin baik kekuatannya maupun arahnya menjadi tidak menentu. Karena suhu antara kedua belahan bumi berimbang, tekanan udaranya pun berimbang dan hampir tidak ada perbedaannya. Satu-satunya arah yang ada bagi gerakan angin itu adalah “ke atas”, maka musim pancaroba itu ditandai juga dengan banyaknya kejadian “angin berputar” sebagai akibat dari perbedaan tekanan udara setempat.

Berikut di atas adalah sedikit penjelasan mengenai iklim dan pengaruhnya terhadap kehidupan, dan sebagai contoh kasus dewasa ini ialah perubahan musim yang begitu mencolok dan munculnya “puting beliung” yang sedikit banyak merugikan manusia. Semoga sedikit penjelasan tersebut semoga dapat menambah pengetahuan kita untuk menyikapi permasalahan dalam kehidupan tentang iklim.

(Disarikan dari berbagai sumber)





GEGAMA On Air

9 09 2008

Salam Lestariiii!

Situs mulai muncul pada 7 September 2008, yang merupakan jawaban perkembangan teknologi & informasi kepencintaalaman. Internet sebagai wahana yang tak terikat batasan ruang, waktu,wilayah dan batas negara, telah menjamah berbagai bidang kehidupan termasuk dunia kepencintaalaman. Internet menjadi pilihan GEGAMA dalam penyampaian informasi tentang selukbeluk dunia kepencintaalaman.

Saat ini, situs www.mapalagegama.wordpress.com tengah diusahakan agar selalu tampil lebih informatif, atraktif, dan komunikatif. Menu utama dalam situs ini antara lain : Beranda, Sejarah Organisasi,Pengurus Harian, Operasional, Galeri Foto, Buletin Soringin dan Buku Tamu.

Situs ini menerima sumbangan gambar, tulisan maupun informasi paten tentang dunia kepencintaalaman. Kritik dan saran tentang situs ini silakan disampaikan melalui email atau no telp yang baru . Buat semua pihak yang telah membantu terselesaikannya website ini, kami ucapkan banyak terimakasih. Jangan lupa, saran atau masukan silakan isi Buku Tamu dan juga baca komentar yang sudah masuk.Matur Nuwun





Keluarga Besar GEGAMA

8 09 2008

” KELUARGA BESAR DAN PENGURUS GEGAMA MENGUCAPKAN

SELAMAT TAHUN BARU 2009″

SEMOGA  SEMANGAT BARU HADIR SELALU DI TAHUN YANG BARU








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.