Iklim dan Kehidupan
Oleh : Sri Kustanti (GGM 19.239)
Klimatologi adalah bagian kecil dari Meteorologi. Dalam mempelajari klimatologi terlebih dahulu perlu diketahui definisi dari cuaca dan iklim. Cuaca adalah keadaan atmosfera di suatu tempat dan waktu tertentu. Jadi pada tempat dan waktu yang berbeda cuaca akan berbeda pula. Adapun iklim adalah jalannya keadaan cuaca atau keseluruhan dari gejala-gejala cuaca di daerah tertentu dalam periode yang lama.
MAPALA, Membentuk SDM yang Matang
Oleh : Windi Puspadewi (GGM 19.246)
Alunan music reggae terdengar, tatkala beberapa orang mahasiswa sedang berlatih panjat dinding, sebagian lagi turun naik pohon dengan menggunakan tali serta beberapa perlengkapannya dan tidak sedikit pula yang bergerombol di depan sekretariat, sebuah ruangan kecil yang mungkin akan dipandang kumuh bagi banyak orang. Keadaan ini hampir tiap hari terjadi kecuali ketika sudah mulai masuk hari Jumat sampai Minggu, sekret yang setiap sore selalu ramai mendadak jadi sepi tanpa penghuni. Katanya ada yang masuk gua, ada yang naik ke gunung, ada yang sedang manjat tebing, ada yang pergi ke hutan untuk liat-liat burung, ada juga yang ngarung di sungai.
Sedikit tulisan di atas bagi orang yang membacanya pasti akan menjawab sekumpulan orang mahasiswa itu adalah kelompok pencinta alam atau yang lebih lazim terdengar dengan sebutan MAPALA. Tulisan di atas merupakan gambaran kecil tentang kehidupan MAPALA yang mulai tumbuh menjamur di lingkungan perguruan tinggi.
Katanya MAPALA….PENCINTA ALAM !!! suka naek gunung…masuk goa…cinta lingkungan.. Ko buang sampah SEMBARANGAN !!!!
|
K |
ata-kata tersebut sudah seringkali kita dengar…bahkan masuk telingan kanan keluar telingan kiri…Seolah-olah kita mengangap nya hanya sebagai angin lalu saja.Kalau kita bisa flashback lagi,
Pecinta Alam adalah orang yang menghargai alam ini dengan cara menjaganya. Pecinta alam bukan sekedar orang yang bisa/mampu mendaki tingginya gunung, menyusuri panjangnya goa, mengarungi ganasnya jeram, atau kegiatan-kegiatan lain yang menurutku lebih cocok disebut adventure.
Pecinta alam lebih luas dari itu. Tidak harus bisa atau suka dengan kegiatan-kegiatan yang memacu adrenalin untuk menjadi seorang pecinta alam. Tapi, justru hanya dengan tindakan sepele kita bisa jauh mencintai alam. Hanya dengan tindakan sepele seperti membuang sampah pada tempatnya kita jauh lebih mencintai dan menghargai alam.
Membuang sampah pada tempatnya. Tindakan sepele yang justru mungkin sering dilanggar para “pecinta alam” ketika sedang memacu adrenalinnya di gunung, jeram, goa atau ketika berada di peradaban hiruk pikuk kota. Tindakan sepele yang justru tidak diperhatikan oleh para penjelajah bertopeng pecinta alam. Sungguh ironis. Ketika kita, dengan label seorang pecinta alam, dengan enaknya menikmati indahnya alam ini, tp kita justru melukai alam dengan meninggalkan potongan-potongan sampah yang tidak bisa diurai oleh alam. Sungguh ironis ketika kita lebih bangga saat mampu mencapai puncak suatu gunung ketimbang ketika kita memungut sampah yang kita bawa.
Bagaimana caranya siey ?????
Mulai dari yang terdekat….tidak membuang sampah sembarangan..karena membuang sampah sembarangan berarti menabung bencana dimasa depan..kemudian melangkah lebih jauh dengan rajin menanam dan memelihara pohon…Seorang pencinta alam sejati tidak harus mendaki banyak puncak atau melintasi banyak hutan..tetapi cukup dengan memelihara lingkungan dengan tidak berusaha merusaknya…..
Apa lagi ya???? Kita sebenarnya sudah tau apa yang harus dilakukan untuk menjaga lingkungan kita sendiri, tinggal memunculkan kemauan dan tindakan saja..
Jika tak ada rasa cinta alam tak ada gunanya belajar jadi pecinta alam, usahakan menjaga hal-hal kecil dulu seperti membuang sampah pada tempatnya dengan begitu kamu akan belajar mencintai hal-hal besar.
Tanpa bermaksud menggurui, alangkah bijaknya bila kita mulai memperhatikan saudara kita yang selama ini kita lukai. Yaitu alam. Sebelum dia pada akhirnya dia habis kesabaran sehingga marah kepada kita. Mulai dari diri kita. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
kayaknya aku dulu nulisnya ga gini deh….kok jd aneh?…jd gak nyambung ma judul,,,…hehehe…:) beda ma versi buletin yg cetakan
keep fight
editore ws pinter koq Pe…
Redaksi punya kuasa kok pe, (dari orang yang berpengalaman tulisannya selalu banyak diedit)
Ilusi Kegiatan, Kegiatan Ilusi
Sebagai orang yang kreatif kita dituntut untuk dapat berimajinasi. Berfikir untuk menciptakan sebuah konsep baru yang nantinya dapat kita realisasikan kedalam kegiatan yang rill, bukan ilusi yang seolah-olah adalah suatu karya cipta yang hebat tetapi hanyalah sebuah harapan semu belaka. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan karena diluar kemampuan kita walaupun terkadang dapat dinalar. Ilusi terkadang seolah-olah menjadi nyata ditambah dengan keyakinan yang belum dibuktikan menjadi sesuatu dapat kita lakukan, yang padahal tanpa didukung dengan kemampuan akan menjadi petaka.
Ilusi tidak sama dengan kreasi atau imajinasi. Ilusi adalah gambaran yang salah tentang sesuatu. Apabila kita melihat daun pisang melambai dimalam hari dikira orang yang bergoyang-goyang bahkan dikira hantu. Kreasi adalah melakukan sesuatu untuk membuat sesuatu yang baru. Sedangkan imajinasi adalah kemampuan untuk membuat sesuatu konsep atau citra yang belum ada. Imajinasi dan kreasi mendorong seseorang untuk maju, sedangkan ilusi hanya membelenggu pola pikir seseorang sehingga menjadi stagnan dan hanya dibayang-bayangi harapan-harapan semu.
Sebuah konsep, gagasan atau ide cemerlang harus dilaksanakan untuk menguji kebenarannya, tidak hanya sekedar keyakinan tanpa tindakan. Didalam merealisasikan konsep, gagasan atau ide cemerlang menjadi sebuah kegiatan harus disesuaikan dengan aturan dan tata-cara yang berlaku, atau melakukan tahapan-tahapan dalam memanajerial suatu kegiatan. Kita tidak sekedar melakukan kegiatan tanpa ada perencanaan yang matang, karena itu hanyalah sebuah ilusi yang menimbulkan kesia-siaan. Ilusi apabila sudah menguasai pola pikir akan berwujud dan seolah-olah menjadi suatu yang rill padahal itu hanyalah obyek yang maya. Sebagai contoh ketika kita melihat film vertikal limit yang didalamnya penuh dengan rekayasa visual tetapi setelah kita menontonnya, motivasi kita semakin bertambah dan yang lebih berbahaya kita seolah-olah dapat melakukan seperti yang dilakukan didalam film tersebut. Kita melakukan kegiatan pemanjatan gunung Semeru yang padahal kondisi gunung tersebut sedang tidak dapat didaki tetapi kita tetap nekat dengan keterbatasan kemampuan kita, hal tersebut hanyalah sebuah aktivitas bunuh diri saja.
Kita sebagai pencinta alam yang notabenenya mahasiswa harus lebih kreatif, imajinatif dan selektif dalam merekayasa pola pikir kita menjadi sesuatu kegiatan yang kongkrit. Kegiatan yang lebih banyak mendatangkan manfaat dan dapat menikmati kenikmatan yang tidak merugikan bukan mendatangkan kenikmatan fiktif.
Suatu imajinasi yang dikreasikan dengan sebuah perencanaan akan menimbulkan kegiatan besar yang tertata, kegiatan yang tidak sekedar asal-asalan tetapi suatu event spektakuler yang bermanfaat sehingga menimbulkan kepuasan yang tiada tara. Percaya atau tidak !! semua ini hanya wacana.
hehehe….bersihkan nama baikmu..hihihi
percuma dibersihin kalo nantinya kotor lagi., huakakakak…..
sopo sih “jangan panggil aku senior” genjik po?
hehe…:)
Hidup GEGAMA..!!
Horas.
He.he