ALAMAT SITUS BARU GEGAMA : www.gegama.geografi.ugm.ac.id
Belasungkawa . .
26 02 2009Innalillaahi wainnailaihiraaji’un..
Keluarga besar GEGAMA turut berbelasungkawa, atas meninggalnya
Prof. Dr. Ir. Sulthoni
ayahanda dari Nugroho Adi (Ciblek)
Semoga almarhum khusnul khotimah, dimuliakan disisi Allah diampuni segala dosa dan keluarga diberi ketabahan dan keikhlasan.
Pengurus 08/09 GEGAMA.
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : Uncategorized
Belasungkawa . . .
26 02 2009Innalillaahi wainnailaihiraaji’un..
Keluarga besar GEGAMA turut berbelasungkawa, atas meninggalnya ayahanda Kang Arief Kamajaya (GGM 15.192).
Semoga almarhum khusnul khotimah, dimuliakan disisi Allah diampuni segala dosa dan keluarga diberi ketabahan dan keikhlasan.
Pengurus 08/09 GEGAMA.
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : Uncategorized
THE ART OF PACKING IN MOUNTAINEERING
14 02 2009Menata barang dalam sebuah carrier merupakan suatu seni tersendiri pada setiap melakukan pendakian gunung.Pada saat packing secara tidak langsung melatih seorang pendaki untuk teratur dan rapi karena untuk menata barang dalam tas/carrier agar cukup, pas, mudah diambil dan mengetahui letak barang tersebut serta nyaman untuk dipakai.Selain itu dari sudut pandang pendaki lain keteraturan dalam packing merupakan suatu kondisi yang dapat membuat orang itu senang melihatnya.Berikut ini cara pengepakan barang dalam carrier namun perlu improvisasi karena tidak semua barang disebutkan disini.
- Carrier yang digunakan (sebaiknya) adalah jenis frame dengan bukaan tali atas (seperti guling) ukuran 60 liter keatas, dan tutup atas memiliki kantong.
- Semua barang dikelompokkan, dibungkus dengan plastik/kresek. Selain itu plastik berfungsi sebagai anti basah (water proof) ketika hujan atau air dalam tas bocor. Pakaian, makanan pokok, makanan kecil, dan sebagainya dibungkus rapi. Tempat makanan/wadah yang memiliki ruang di isi dengan makanan atau bahan bakar. Barang eletronik dan pecah belah, dilapisi kain atau disisipkan dalam pakaian
- Matras dilipat dua dan digulung lalu dimasukan dalam carrier dan mekarkan gulungan matras sehingga menjadi dinding di dalam tas.
- Lalu masukkan barang satu persatu, adapun menyusun barang sebagai berikut Barang besar dan ringan paling bawah seperti sleeping bags dan tenda/flying sheet,Diatasnya barang berat seperti tempat air, logistik (makanan, kompor, tabung gas, bahan bakar, dan sebagainya),Diatas barang tersebut pakaian dan makanan ringan,Paling atas ponco atau raincoat atau jaket (jaket dapat ditaruh bersama SB di bawah, jika ada ponco atau raincoat) dan Pada kantong kepala masukkan barang kecil seperti topi, slayer, binokuler, alat tulis, sarung tangan, makanan kecil, plastik/kresek, tissu, dan survival kit.
- Barang yang berukuran panjang seperti parang disisipkan berdiri dan dibungkus jika tidak memiliki sarung, barang kecil seperti lilin, baterai cadangan,tissu, gelas dan sebagainya disisipkan juga di bagian tepi (menempel matras).
- Tutup rapat tempat air minum dan bahan bakar cair dan dibungkus kresek, sebaiknya botol dalam keadaan penuh, jika memiliki udara dapat mengakibatkan tekanan dalam botol berubah-ubah dan akhir botol penyok dan bocor. Air umumnya lebih berat dibanding barang lain letakkan pada sisi punggung
- Usahakan semua barang dalam kondisi rapat (high tide), tidak ada ruang kosong terutama bagian tepi, isi sela-sela barang dengan barang kecil seperti makanan kecil atau kain (bukan pakaian). Jika perlu ditekan kebawah (dengan kaki) dengan hati-hati, dan sekali-sekali diangkat agar semua berat barang turun kebawah. Saat berkendaraan posisi carrier terkadang di tidak menentu kadang tidur, berdiri, miring atau ditumpuk dengan barang lain, dengan posisi barang dalam keadaan rapat maka tidak perlu khawatir jika ada yang barang yang rusak atau bocor.
- Jika masih ada sisa ruang diatas, isi dengan barang kelompok. Namun jika masih ada barang yang belum masuk, gunakan tas tambahan seperti daypack dan isi dengan barang yang ringan. Tukarkan barang dalam carrier yang ringan ke daypack sehingga semua yang berat dan besar berada dalam carrier sedang yang ringan dan sering digunakan masukkan dalam daypack.
- Carrier yang telah di isi dengan baik dapat dilihat dari bentuk dan posisinya, jika digerakkan cendrung seimbang tidak ada yang bergerak didalamnya dan jika didirikan tidak rebah karena gaya berat menuju kebawah.
Barang yang sering digunakan seperti peta, kompas, protaktor, botol kecil untuk minum di masukkan dalam kantong celana. Dan saat pendakian sebaiknya tangan bebas dari peralatan apapun kecuali jika menggunakan alat bantu seperti tongkat.
Pustaka :
Gegama.2007.Materi Dasar Kepecintaalaman Gegama.Yogyakarta : Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Geografi UGM
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : Uncategorized
Tamu dari Makasar
14 02 2009Sekumpulan orang yang kelihatan asing datang dengan membawa carrier yang menjulang tinggi menghampiri sekretariat kami.
“Dari mana mas?”,salah satu anggota GEGAMA bertanya kepada mereka.
“Kami dari MAHADIPA”,jawaban dari salah satu dari mereka.
Karena memang sudah direncanakan kedatangan mereka jauh hari sebelumnya akan kedatangannya ke jogja terutama di sekretariat GEGAMA.Sontak kami mempersilakan semua anngota mahadipa untuk duduk dan beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah.Setelah itu kami mulai ngobrol tentang berbagai hal dari pengalaman perjalanan di jawa ,organisasi dan tujuan kedatangannya disertai tawa dan kebersamaan.Kedatangan rekan kami dari MAHADIPA dalam rangka ekspedisi pulau jawa mulai dari kegiatan panjat tebing ,caving dan pendakian gunung,disesuaikan dengan perkembangan divisi yang ada diorganisasi mereka.Tim dari mahadipa di bagi 2 yaitu tim caving & climbing dan tim mountaineering.Tim caving dan climbing merencanakan melakukan kegiatannya di Goa Jomblang dan Tebing pantai siung yang terletak di Kabupaten Gunung Kidul.Sedangkan Tim mountaineering di gunung raung dan argopuro yang berada di wilayah jawa bagian timur.
Setelah event mereka selesai maka kami berinisiatif untuk mengajak mereka untuk melihat alam di Provinsi D.I Yogyakarta dan Jawa Tengah sambil menunggu tim hutan gunung yang belum selesai melakukan pendakiannya.Rencana kami mengajak untuk melakukan Pendakian Gunung Merapi dan ORAD di Sungai Serayu.Dari kegiatan itu moment keakraban dan kebersamaan semakin kental dan timbul dari berbagai canda tawa selama kegiatan.
Pepatah mengatakan “ada pertemuan pasti akan ada suatu perpisahan”.Namun suatu hal yang masih ada dalam moment perpisahan itu adalah rasa persaudaraan yang abadi dan tanpa pamrih. Terasa begitu indah kedatangan saudara jauh kami dari Kota Makasar.
Semoga apa yang kami suguhkan berkesan di benak teman – teman MAHADIPA.Tetaplah abadi persaudaraan kita ini dan mohon maaf apabila ada suatu hal yang kurang berkenan dari kami,saudaraku.Salam Lestari
Komentar : 1 Komentar »
Kategori : Uncategorized
Kabupaten Cilacap
12 02 2009PULAU NUSAKAMBANGAN
Nusakambangan merupakan suatu pulau kecil yang terletak di sebelah selatan kabupaten Cilacap.Secara administratif terletak di kecamatan Cilacap Selatan yang dikelilingi oleh perairan laut lepas ( Samudera Hindia ). Nusakambangan merupakan nama sebuah pulau di Jawa Tengah yang lebih dikenal sebagai tempat terletaknya beberapa Lembaga Pemasyarakatan (LP) berkeamanan tinggi di Indonesia. Masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Cilacap. Untuk mencapai pulau ini orang harus menyeberang dengan kapal feri dari pelabuhan Samudera di Cilacap ke pelabuhan sondong di Nusakambangan.Semula terdapat sembilan LP di Nusa Kambangan, namun kini yang masih beroperasi hanya tinggal empat, yaitu LP Batu (dibangun 1925), LP Besi (dibangun 1929), LP Kembang Kuning (tahun 1950), dan LP Permisan (tertua, dibangun 1908). Lima lainnya, yaitu Nirbaya, Karang Tengah, Timus Buntu, Karang Anyar, dan Gleger telah ditutup.
Pulau Nusakambangan mempunyai tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem pantai yang penting peranannya sebagai pengatur tata lingkungan, pencegah erosi serta merupakan habitat berbagai jenis fauna, antara lain macan kumbang (Panthera pardus), landak (Hystrix brachyura), trenggiling (Manis javanica), ular sanca (Python sp) serta berbagai jenis burung seperti rangkong (Buceros.sp).
Aspek penting Nusakambangan adalah nilai sejarah sebagai tempat tahanan para narapidana sejak zaman Belanda. Potensi menarik di Nusakambangan adalah panorama alam di Pantai Selatan, yaitu Pantai Permisan, adanya gua-gua dalam serta bangunan-bangunan tua bekas benteng pertahanan Portugis. Selain itu pantainya memiliki gelombang laut yang cukup potensial guna dikembangkan sebagai obyek wisataalamlaut.
Pada sektor pariwisata memiliki potensi wisata alam seperti pantai dan gua menonjol di Pulau Nusakambangan serta tidak ketinggalan wisata sejarah berupa benteng pengintaian,peninggalan zaman penjajahan.Nusakambangan memiliki 4 pantai yaitu Pasir Putih, Ranca Babakan, Karang Bolong dan Permisan, Deretan gua yang ada di pulau ini diberi nama Ratu, Putri, Bendung (Maria) dan Masigitsela. Keempat gua ini telah menjadi objek wisata umum sementara lima gua yang lain sampai sekarang belum bisa dinikmati keindahannya karena masalah transportasi. Sedangkan beberapa benteng yang ada yaitu Benteng Karang Bolong dan Benteng Klinger. Di hutan Nusakambangan kita juga masih bisa menemukan harimau, macan kumbang, ular, monyet dan pada daerah tertentu kadang juga ditemukan buaya.
Pulau Nusakambangan, yang berstatus sebagai cagar alam, juga merupakan habitat bagi pohon-pohon langka, namun banyak yang telah ditebang secara liar. Saat ini yang tersisa kebanyakan adalah tumbuhan perdu, nipah, dan belukar. Kayu pawlar yang hanya dapat ditemukan di pulau ini banyak dicuri karena setelah dikeringkan, mempunyai kualitas yang setara dengan kayu dari Kalimantan. Secara tradisional, penerus dinasti Mataram sering melakukan ritual di pulau ini. Nusa Kambangan juga tercatat sebagai pertahanan terakhir dari tumbuhan Wijayakusuma yang sejati.
Nusakambangan mempunyai luas 30.000 Ha. Di dalamnya terdapat 4 kawasan konservasi alam yang kecil, yaitu Cagar Alam (CA) Nusakambangan Barat (928 ha), CA Nusakambangan Timur (277 ha), CA Wijayakusuma (satu ha), dan CA Karangbolong (0,5 ha) yang telah ditetapkan statusnya sejak zaman Belanda.
Di sebelah utara pulau Nusakambangan terhampar Segara Anakan dengan rangkaian pulau-pulau kecil bersambung dengan daerah rawa dan hutan mangrove di pantai selatan Cilacap. Perairan Segara Anakan merupakan bagian Samudra Indonesia dengan muara-muara sungai dan hutan payau Cilacap dan Ciamis. Bersama dengan hutan Nusakambangan, Segara Anakan berikut daerah di sekitarnya merupakan satu kesatuan tata lingkungan yang tersusun atas unit-unit ekosistem pulau kecil dengan hutan dataran rendah di Nusakambangan, pesisir dan pantai, ekosistem laguna di Segara Anakan, rawa dengan mangrove, baik yang ada di pantai utara Nusakambangan, pantai selatan Cilacap dan pantai timur Ciamis.
Tata lingkungan ini mendapat pengaruh dari air laut Samudra Indonesia dan air tawar dari beberapa Daerah Aliran Sungai seperti Citanduy dari sebelah barat, Cibeureum dan lain-lain dari utara, dan Sungai Donan dekat Cilacap.
Melihat keadaan wilayah Nusakambangan serta Segara Anakan dapat diketahui bahwa daerah tersebut memiliki keanekaragaman ekosistem dan kekayaan sumberdaya alam hayati yang amat tinggi. Karena itulah kawasan Nusakambangan, Segara Anakan dan daerah sekitarnya menjadi pusat perhatian para konservasionis, bukan saja di Indonesia melainkan juga dari seluruh dunia. Segara Anakan, Nusakambangan serta daerah sekitar dengan potensi sumber daya alam hayatinya seolah telah menjadi milik dunia yang terus- menerus mendapat sorotan.
Nusakambangan merupakan pulau yang salah satu penyusun batuannya adalah batu gamping.Melalui sistem celah rekahan proses pelarutan batu gamping berlangsung dan membentuk rongga – rongga kecil sampai sangat besar membentuk gua.Gua merupakan lingkungan yang unik karena gelap sepanjang masa terutama bagian dalamnya dan memiliki ornamen – ornamen yang sangat indah karena di bentuk dalam proses yang lama.Ekosistem dalam gua merupakan suatu mata rantai yang unik dan memiliki kekhasan dibandingkan yang lainnya.
Kawasan kapur di Nusakambangan mulai terkikis oleh aktivitas penambangan kapur Semen Cibinong. Ancaman lain yaitu aktivitas wisata di dalam gua yang relatif merusak, penangkapan kelelawar dan penambangan guano.Gua-gua yang ada mempunyai perkembangan yang berbeda-beda dengan ornamen yang bervariasi. Survai di 9 gua ditemukan sedikitnya 65 jenis Arthropoda. Dengan rincian 11 jenis troglobit dan 54 lainnya dalam katagori troglofil dan troglosen. Jenis-jenis troglobit masih memerlukan penelitian yang lebih lanjut (Rahmadi dan Suhardjono 2003).
Akan tetapi, pulau ini masih menyisakan persoalan. Meskipun secara administratif berada dibawah kendali Kabupaten Cilacap, pengelolaannya masih berada di tangan Departemen Kehakiman. Karena itulah, pemerintah Kabupaten Cilacap dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) berupaya untuk bisa mengelola Nusakambangan sepenuhnya.Kabupaten Cilacap masih mempunyai beberapa lokasi wisata alam serta wisata budaya dan sejarah yang tidak kalah menariknya bagi wisatawan. Lokasi wisata alam itu seperti Pantai Teluk Penyu di Keca-matan Cilacap Selatan, Hutan Payau di Kecamatan Cilacap Utara, Gunung Selok dan Srandil di Kecamatan Adipala, Pan-tai Widarapayung di Kecamatan Binangun, Pantai Jetis di Kecamatan Nusawungu, dan juga Permandian Air Panas Cipari di Kecamatan Sidareja.Sedangkan bagi wisatawan yang ingin menelusuri sejarah bisa menikmati keberadaan Benteng Pendem Cilacap. Benteng yang dikenal sebagai Kusbatterij Op De Lantong Te Tjilatjap ini merupakan markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun selama 18 tahun (1861-1879) dengan luas 6,5 hektar.Menjual potensi wisata Cilacap tidak mudah. Persoalannya adalah letak geografi daerah ini seperti berada di jalan buntu. Cilacap hanya mengenal satu jalan untuk ke masuk dan keluar.Tidak ada jalan tembus lain untuk bisa lewat sambil melirik keindahan alam di sini, yang kemudian menarik hati untuk singgah. (Sriyadi Adisumarta/ Litbang Kompas )
Komentar : 2 Komentar »
Kategori : Uncategorized
SAR Gunung Hutan GEGAMA 2009
12 02 2009Latihan SAR ( Search and Rescue ) Gunung Hutan GEGAMA 2009
Oleh Tim Latihan SAR Gunung Hutan GEGAMA
Tidak hanya pemerintah yang membutuhkan mitigasi bencana sebagai upaya meminimalisir kerugian akibat bencana alam.Gegama mulai selangkah lebih maju sebagai organisasi pecinta alam yang profesional memerlukan suatu upaya mitigasi dalam lingkup internal organisasi yang selama 5 tahun sempat berhenti melaukan latihan bersama.Timbulnya kesadaran para anggota gegama akan kebutuhan latihan SAR sebagai upaya mitigasi dan melaksanakan system diklat angkatan XXVI melalui pengurus harian sebagai fasilitator menjembatani untuk mengoptimalkan seluruh potensi SDM organisasi untuk melakukan latihan bersama dalam Latihan SAR ( Search and Rescue ) Gunung Hutan GEGAMA 2009 di Lereng Selatan Gunung Merapi.
Perencanaan kegiatan yang di serahkan secara penuh oleh tim kecil (Konseptor Kegiatan) yang beranggotakan Teyeng ,Rembes ,Gita dan Abah mulai bulan Desember menjalankan fungsinya.Desain kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan organisasi SAR dan tahap – tahap dalam pelaksanaan operasi SAR serta metode dan teknik pencarian survivor serta mengaplikasikannya dilapangan.Hasil yang diharapkan yaitu pemahaman yang sama antar anggota GEGAMA tentang tahapan operasi SAR dan nantinya mampu secara cepat ,cermat dan aman dalam menyelenggarakan kegiatan operasi SAR dilingkup internal organisasi dan eksternal organisasi.
Menurut J.W. (Bill) Wade ( anggota dari US National Park Service ) Manajemen Operasi SAR terdiri dari 5 (lima) bagian operasi sebagai berikut :
1. Pimpinan
Bertanggung jawab terhadap “semua aktivitas di lapangan” dan keputusan menit – permenit.Dialah yang bertanggung jawab atas keberhasilan dan kegagalan operasi secara keseluruhan. SC dan SMC termasuk disini.
2. Tim Perencanaan
Bertanggung jawab untuk mengumpulkan informasi dan memberikan saran untuk strategi dan taktik pencarian, termasuk mapping.
3. Taktis Operasi
Bertanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan taktis operasi seperti rotasi SRU, pelaksanaan Operasi harian dsb. OSC termasuk dalam bagian ini.
4. Tim Pendukung
Bertanggung jawab untuk menyediakan supply dan peralatan yang dibutuhkan untuk menunjang operasi seperti makanan, obat-obatan,peralatan Vertical Rescue (jika tidak ada) tandu dsb.
5. Tim Komunikasi
Bertanggung jawab untuk memasang, memelihara dan menjalankan kegiatan komunikasi yang berhubungan dengan operasi.
Masing-masing bagian ini merupakan kesatuan integral yang saling mendukung demi kesuksesan operasi. Banyak yang tidak menyadari bahwa timpangnya satu bagian ini dalam operasi merupakan timpangnya operasi secara keseluruhan. Hal ini harus benar-benar dimonitor dan di awasi oleh SMC sebagai pimpinan tertinggi di lapangan.
Persiapan dilakukan dengan melakukan survai lapangan ,materi ruang dan latihan fisik serta persiapan fasilitas pendukung kegiatan.Karena dalam bentuk latihan maka selama pra lapangan berbagai fasilitas pendukung kegiatan terlebih dahulu disiapkan baik itu administrasi ,perijinan tempat ,transportasi ,kebutuhan perlengkapan dan kebutuhan konsumsi yang disesuaikan dengan lamanya kegiatan serta alokasi dana.
Latihan SAR ( Search and Rescue ) Gunung Hutan GEGAMA 2009 di Lereng Selatan Gunung Merapi dilaksanakan pada tanggal 24 – 27 Januari 2009 dengan peserta sejumlah 20 orang.Pada awal kegiatan kondisi benar – benar di setting agar sesuai dengan kenyataannya agar nantinya apabila terjadi kejadian sebenarnya tidak timbul kegagapan dalam melaksanakan tahapan operasi SAR khususnya Gunung Hutan.Maka dari itu gambaran umum dari kegiatan ini diawali terdapat suatu berita bahwa dua orang anggota gegama tersesat di gunung merapi sebagai suatu organisasi pecinta alam harus segera tanggap akan informasi itu dan melakukan kroscek dan mengolah berita itu kemudian apabila kebenaran berita darurat itu maka seharusnya direspon dengan membentuk berbagai komponen organisasi SAR yang nantinya menjalankan fungsinya untuk mendukung operasi SAR yang cepat ,cermat dan aman serta terselenggaranya operasi SAR yang sukses.Kemudian kami menjalankan tugas dan bertanggung jawab penuh sesuai bidang kami masing – masing.
Sebagai anggota SAR pola pikir sebagai seorang penolong harus sejalan dengan tujuan mulianya karena waktu sangat berharga apabila terlambat satu menit maka korban yang dalam kondisi gawat darurat tidak dapat tertolong lagi.Kami harus cepat dalam merespon berbagai temuan yang mengindikasikan ciri – ciri korban dan melakukan analisis secara cepat dan tepat agar korban dalam kondisi yang gawat darurat dapat segera ditolong.Pada operasi SAR kali ini korban ditemukan pada waktu malam hari oleh tim SRU dan dilakukan evakuasi korban dengan dragbar menuju Base Camp (Mbah Pujo).Operasi SAR ditutup dengan kesuksesan penemuan korban.Namun masih banyak point – point yang harus dibenahi agar operasi SAR berjalan lebih efisien dan efektif.
Pendokumentasian selama kegiatan SAR yaitu berupa foto dan tulisan merupakan dokumen yang sangat berharga bagi upaya tambal sulam untuk kegiatan operasi SAR kedepannya dan refleksi potensi SAR di lingkungan internal GEGAMA.
Pustaka
J.W. (Bill) Wade, US National Park Service, “The Role of Management Team”, Contribution to US mountaineering Association, December 2003
Komentar : Tinggalkan sebuah Komentar »
Kategori : Uncategorized
Berita Koran Kedaulatan Rakyat
12 02 2009Pendaki Merapi Perlu Simaksi
oleh: Arif Sulfiantono
12/02/2009 08:34:05
ENAM mahasiswa Fakultas Teknik UGM selama dua hari tersesat di Gunung Merapi. Saat ditemukan, dalam keadaan lemas akibat kelaparan, bahkan satu di antaranya mengalami patah tulang tangan (KR, 4 Februari 2009). Kawasan Konservasi Alam Tahun 2004 wilayah Gunung Merapi ditunjuk menjadi Taman Nasional Gunung Merapi (TN G Merapi) berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 134/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 dengan luas 6.410 Ha yang terletak di empat kabupaten, yaitu Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Magelang, Klaten, dan Boyolali Propinsi Jawa Tengah.
Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi merupakan alih fungsi dari hutan Taman Wisata Alam/Cagar Alam Plawangan Turgo, Hutan Lindung Kaliurang dan sebagian hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani. Taman Nasional sendiri adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Sedangkan kawasan konservasi sendiri adalah bagian dari wilayah daratan atau lautan yang perlu dan secara sengaja disisihkan dari segala bentuk eksploitasi untuk dilindungi dan dimanfaatkan secara bijaksana sesuai dengan fungsinya, sehingga terjamin keberadaannya bagi generasi saat ini dan masa yang akan datang.
Penetapan sebagai TN G Merapi didasarkan oleh kawasan TN G Merapi mempunyai nilai penting sebagai daerah perlindungan sistem penyangga kehidupan, khususnya fungsi perlindungan hidro-orologis dan iklim bagi masyarakat di Propinsi DIY dan kabupaten yang berada di sekitar kawasan, yaitu Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali. Seain itu, perannya sebagai pengawetan keanekaragaman hayati dapat dijadikan sebagai sumber plasma nutfah bagi kehidupan manusia.Manfaat lain, baik langsung maupun tidak langsung yang dapat diperoleh dari kawasan ini. Peran lainnya adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan dan latihan, penunjang budidaya dan pariwisata. Jalur Pendakian Gunung Merapi Pendaki Gunung Merapi dapat memilih salah satu dari empat jalur pendakian, yakni jalur Babadan, Magelang, jalur Kinahrejo, Sleman, jalur Deles, Klaten, dan jalur Selo, Boyolali. Jalur Selo adalah jalur paling mudah untuk pendakian, dibandingkan jalur lain. Untuk jalur Babadan dan Kinahrejo masih ditutup untuk jalur pendakian, dikarenakan jalur rusak akibat erupsi Merapi tahun 2006.
Pendaki Gunung Merapi sebelum melakukan pendakian diwajibkan untuk membawa Simaksi dan melapor ke pos terdekat di jalur pendakian.Berdasarkan berita di KR, 4 Februari 2009, enam mahasiswa pendaki dari UGM itu menggunakan jalur Selo untuk menuju puncak Merapi. Penulis mengecek ke Polisi Kehutanan (Polhut) Balai TN G Merapi resort Selo, ternyata dalam daftar pendaki Gunung Merapi yang ada di pos Selo tidak terancam daftar nama keenam mahasiswa pendaki tersebut. Simaksi untuk Pendaki Merapi Balai TN G Merapi sebagai pengelola TN G Merapi mengeluarkan aturan dan tata tertib bagi pengunjung TN G Merapi, termasuk pendaki puncak Gunung Merapi. Hal ini didasarkan untuk menjaga dan melindungi kawasan TN G Merapi dari berbagai macam gangguan terhadap ekosistem Gunung Merapi. Tata tertib dan aturan tersebut dikenal dengan SIMAKSI, yakni Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi.
SIMAKSI dibuat berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Nomor: SK.192/IV-Set/HO/2006 tentang Izin Masuk Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam dan Taman Buru. Berikut adalah Tata Tertib memaski TN G Merapi untuk pengunjung maupun pendaki Gunung Merapi:
- Pengunjung hanya diperbolehkan berada di jalur yang telah disediakan.
- Pengunjung tidak boleh merusak, menebang pohon maupun memindahkan benda-benda yang ada dalam kawasan Tn G Merapi.
- Pengunjung tidak boleh membawa tumbuhan maupun satwa liar dari dalam maupun ke luar kawasan TN G Merapi.
- Pengunjung tidak diperbolehkan membawa alat/bahan yang dapat mencemarkan kawasan seperti alat bunyi-bunyian, sabun, pasta gigi, spidol, phylox, cat, pestisida dan sebagainya.
- Semua sampah diharap dibawa ke luar kawasan TN G Merapi.
- Pengunjung yang akan berkemah/menjelajah alam/hingking diharuskan membawa makanan/ minuman secukupnya, jaket, jas hujan, lampu senter/lampu penerangan, baju ganti dan P3K.
- Pengunjung tidak diperkenankan membawa senjata tajam (kecuali yang digunakan untuk berkemah), dan atau minuman beralkohol serta obat-obatan terlarang.
- Pengunjung diharapkan menghindari membuat api unggun kecil untuk kegiatan berkemah dapat dilaksanakan di tempat yang telah disediakan menggunakan kayu bakar yang dibawa dari luar kawasan TNGM.
- Petugas akan memeriksa barang bawaan dan surat izin (Simaksi) sebelum dan sesudah memasuki kawasan.
Adapun untuk Tata Cara Pengajuan Izin Kegiatan di Kawasan TN G Merapi atau Pengajuan Simaksi (Pengumuman No PG. 04/IV-T.43/Um/2008) sebagai berikut:
- Simaksi diberlakukan terhadap semua kegiatan yang dilaksanakan di dalam Taman Nasional Gunung Merapi dan pelayanan perizinan (Simaksi ) ini terpusat di kantor Balai TN G Merapi, berupa: penelitian, survei, pengambilan data, pengambilan/snapshoot film komersial, video komersial, handycam dan foto, praktik lapangan, kampanye/sosialisasi/pameran, rehabilitasi kawasan, penanaman, berkemah, mendaki gunung, out bond, hiking, diklat-diklat dengan lokasi praktik di dalam kawasan TN G Merapi.
- Pemohon mengajukan surat permohonan dengan ketentuan mengajukan permohonan secara tertulis/resmi yang ditujukan kepada Kepala Balai TN G Merapi minimal seminggu sebelum pelaksanaan kegiatan dilengkapi dengan proposal kegiatan, dua buah materai Rp 6.000 dan membayar pungutan masuk/pungutan kegiatan lain-lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
- Pemegang Simaksi harus mematuhi segala peraturan dan prosedur yang termuat dalam Simaksi.
- Pemegang Simaksi wajib didampingi oleh petugas dari Balai TNGM dalam melaksanakan kegiatan di dalam kawasan.
- Pemegang Simaksi wajib menyerahkan copy dokumentasinya dan laporan kegiatannya kepada Balai TN G Merapi.
- Untuk melaksanakan kegiatan di kawasan TN G Merapi, dikenakan beberapa pungutan/tiket masuk (berdasarkan PP No 59 tahun 1998).
Pengunjung maupun pendaki Gunung Merapi dapat memperoleh Simaksi di kantor Balai TN G Merapi di Jl Argulobang No 17 Baciro, Yogyakarta, telepon 560669. Simaksi merupakan salah satu alat untuk menjaga dan melindungi kawasan TN G Merapi, sehingga terjaga kelestariannya. Di samping itu, SIMAKSI juga dapat berperan sebagai kontrol bagi pengunjung maupun pendaki yang akan melakukan kegiatan di Gunung Merapi. Diharapkan dengan adanya Simaksi, kecelakaan akibat faktor alam yang buruk dapat dihindari. Polhut Balai TN G Merapi pun akan siap dan sigap melakukan evakuasi jika pendaki yang membawa Simaksi berada dalam kesulitan saat melakukan pendakian. q – c. (248-2009). *) Arif Sulfiantono SHut MSi, Calon Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai TN G Merapi.
Sumber :
Koran Kedaulatan Rakyat dalam kolom opini public tanggal 12 Februari 2009
Komentar : 3 Komentar »
Kategori : Uncategorized
Rumahku
12 02 2009Sekretariat GEGAMA
Pancaran sinar matahari adalah tenaga yang setiap hari membangunkan para penghuni sekretariat dengan menyikap dingin yang menyelimutinya.Kehidupan kampus Geografi itu mulai hidup.Terdengar suara bising lalu lalang kendaraan bermotor.Seorang laki – laki keluar dengan secangkir kopi dan sebatang rokok duduk di kursi yang didepannya terdapat sebuah meja hitam yang diatasnya berserakan kertas dan kartu remi.
Rumah yang sepi dengan bentuk bangunan yang kecil dan terkesan diluar cluster UKM Fakultas Geografi diantara bangunan yang menjulang tinggi di Kampus Geografi.Sehingga itu merupakan keunikan tersendiri di lingkungan kami.Tidak seperti biasanya geliat aktivitas di rumah ini kurang begitu ramai.Apa karena masa liburan semester atau kesibukan penghuninya dengan berbagai keberagaman kepentingan?
Tetapi hal itu tidak berjalan lama,satu demi satu anggota mulai menyempatkan diri singgah di rumah itu.Rumah kedua kami adalah tidak lain sekretariat yang merupakan tempat kami melakukan segala aktivitas selain kuliah baik itu ngobrol ,sejenak melepaskan lelah setelah kuliah dan sebagai suatu pusat informasi segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan kepencintaalaman.Rasa kebersamaan dan kekeluargaan mulai timbul disini.
Sejalan dengan waktu kondisi Sekretariat GEGAMA mengalami renovasi dari tahun ke tahun.Pada awalnya yang tidak memiliki atap di depan halaman sekretariat sampai sekarang yang kami anggap ideal untuk menjalankan kegiatan keorganisasian dengan memiliki 3 ruang yang masing – masing difungsikan sebagaimana mestinya.Yang dulunya gudang di fungsikan untuk rapat dan gudang peralatan gegama pindah di dekat laboratorium Hidrometeorologi yang dulunya bekas ruang dapur fakultas.Adanya program pembangunan Pusat UKM di lingkungan Fakultas Geografi yang dibangun tepat dilahan Sekretariat GEGAMA dengan sempat melakukan upacara peletakan batu pertama sampai saat ini belum terealisir dengan baik bahkan berhenti untuk beberapa saat.
Sekretariat yang selama ini merupakan ruang bagi kami untuk melakukan aktivitas keorganisasian dalam bidang kepecintaalaman walaupun tampak kotor ,berantakan dan tidak tertata rapi memberikan pemandangan yang biasa setiap harinya,yang penting penghuninya merasa nyaman.Namun dari tempat ini timbul berbagai ide – ide dan gagasan yang kreatif ,inovatif dan cemerlang sebagai suatu yang mensupport perkembangan organisasi GEGAMA ke arah dan tujuan organisasi yang lebih baik.
Komentar : 1 Komentar »
Kategori : Uncategorized
GUNUNG HUTAN
12 02 2009
Cerita dari Pendakian Gunung Gede – Pangrango
Oleh Tim Pendakian Gede – Pangrango
Tidak seperti biasanya,beberapa hari lamanya upacara yang selalu menjadi rutinitas bagi para anggota gegama apabila akan melakukan kegiatan operasional dilaksanakan pada waktu siang atau sore hari di depan Sekretariat.Pagi subuh itu upacara dilaksanakan karena rencana kami tepat pukul 05.00 sudah harus berangkat menuju Bandung.Upacara yang dihadiri oleh beberapa teman – teman pengurus dilakukan seperti biasanya diisi dengan wejangan dan nasehat bahwa perjalanan kami memiliki suatu tujuan dan tim kami harus mencapai tujuan itu dengan rasa kebersamaan walaupun mata kami sayup – sayup masih terasa ingin tidur selama 1 menit saja untuk menghilangkan rasa ngantuk yang merajalela.Meskipun kondisi cuaca hujan saat berangkat ke Stasiun Tugu tidak akan menyurutkan semangat kami untuk melanjutkan perjalanan.
Start perjalanan kami dimulai dari Stasiun Tugu ( K.A Prameks ) – Transit di Stasiun Kutoarjo ( K.A Kutojaya ) – Stasiun Kiaracondong – Naik Angkutan Merah – Terminal Luwipanjang ( Bus Jurusan Cianjur ) – Berhenti di Cibodas – Naik angkutan ke Green Ranger ( Base Camp ).
Tema yang kami usung untuk pendakian Gunung Gede – Pangrango adalah Visual Landscape.Dimana kami melihat fenomena alam Taman Nasional Gede – Pangrango dan upaya konservasinya.Anggota tim kami yaitu Tiwul ,Vemo ,Moong ,Gandul ,Sondlot dan Plongoh dengan jobdes masing – masing mulai melakukan persiapan dengan matang.Kesan pertama datang di BC Camp selain udara yang sejuk dan pemandangan yang luar biasa indah suatu bentuk Keagungan Tuhan yaitu perijinan yang sangat sulit karena tidak seperti pendakian di beberapa gunung di jawa yang perijinannya lumayan mudah.Disana apabila ingin mendaki harus pesan tiket dulu minimal 3 bulan sebelum hari pelaksanaan.Persiapan untuk perijinan sudah jauh hari kami urus agar pendakian kami berjalan sesuai yang diharapkan dengan kenalan salah satu anggota kami yang paham betul tentang perijinan Taman Nasional Gede Pangrango membantu kami dalam mensukseskan perijinan pendakian sehingga tidak menimbulkan masalah yang berarti.Tidak hanya perijinan tetapi perencanaan perjalanan baik itu kesiapan fisik dan mental serta tujuan kegiatan ,alokasi dana , perlengkapan dan konsumsi yang disesuaikan dengan lama pendakian sudah kami siapkan dengan matang.
Pendakian dimulai pada pagi hari tepatnya pukul 08.00 pagi,Semua anggota tim sudah siap dengan carier yang dibawa di punggungnya untuk mulai langkah demi langkah menuju jalur pendakian Gunung Gede Pangrango.Pada awal keberangkatan kami harus melalui pos penjagaan ( pintu gerbang jalur pendakian Cibodas – Puncak Gede dan Pangrango ) disana kami disweeping oleh petugas perhutani atas barang bawaan kami.Apabila membawa barang – barang yang tidak sesuai dengan persyaratan maka kami akan di kenai sangsi.Selain itu kami juga diberi dua buah plastik besar untuk tempat sampah selama perjalanan dan dianjurkan memungut sampah yang berada disepanjang jalur pendakian.Program itu merupakan salah satu upaya menjaga kebersihan jalur pendakian dari para pendaki yang usil dalam membuang sampah sembarangan.Kami mulai berpikir bahwa TNGP memang benar – benar dijaga kelestariannya.Selain itu TNGP ditutup pada bulan Januari sampai Mei yang dioptimalkan untuk menjaga kelestarian hutannya.
Kenyamanan yang pertama kali kami rasakan saat memulai perjalanan pendakian karena pohon – pohon keras (tanaman tahunan) yang menjulang tinggi dan masih hijau berada di sekeliling kami dan aliran air sungai yang jernih khas pegunungan sepanjang jalur pendakian memberikan keuntungan bagi kami akan jaminan kebutuhan air selama perjalanan pendakian di jalur pendakian Cibodas – Puncak Gede dan Puncak Pangrango.Berbeda halnya dengan jalur pendakian Gunung Putri – Alun – alun Suryakencana – Puncak Gede dan Puncak Pangrango jalan yang didominasi oleh akar – akar pohon dengan kondisi medan yang terjal dengan sedikit sumber air maka pada jalur ini apabila melakukan perjalanan turun harus hati – hati.Perbedaan kedua jalur tersebut sangat signifikan yang satunya jalur pendakian untuk wisata dengan keindahan alam di sepanjang jalur pendakian.Sedangkan jalur pendakian Gunung putri yang waktu tempuhnya cepat dengan medan yang terjal dan pemandangan alam yang monoton merupakan tantangan tersendiri bagi penggiat alam bebas dalam memacu andrenalinnya.
Dalam perjalanan kami melakukan pengisian check list dan pendokumentasian kegiatan baik dalam bentuk foto dan video serta sedikit wawancara dengan para pendaki dan masyarakat sekitar.Hasilnya berupa deskripsi bentanglahan gunung Gede Pangrango baik biotik , abiotik dan budaya masyarakat sekitar maupun informasi jalur pendakian Cibodas – Puncak Gede dan Puncak Pangrango serta jalur pendakian Gunung Putri – Alun – alun Suryakencana – Puncak Gede dan Puncak Pangrango.Namun jalur pendakian dari Kabupaten Sukabumi yaitu Jalur pendakian Salabintana – Alun-alun Suryakencana – Puncak Gede dan Puncak Pangrango tidak berhasil kami dokumentasikan karena keterbatasan waktu.
Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango ( TNGP ) termasuk dalam wilayah 3 Kabupaten yaitu Kabupaten Cianjur ,Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor.Ketiga Kabupaten itu secara eko-geomorfologis termasuk dalam wilayah ekosistem bentanglahan gunungapi.Secara biofisik termasuk wilayah yang potensial di bagian atas merupakan kawasan lindung yang dapat mendukung kawasan lahan kering dan kawasan lahan basah yang berada dibawahnya atau hilir.Secara bioregion kawasan hutan di puncak mampu menciptakan iklim yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem air,sehingga dapat terbagi rata sepanjang musim,maka kawasan lahan basah mendapatkan efek distribusi air melalui mata air dan sungai untuk menanam padi sawah 3 kali pertahun dan tanaman unggul lainnya.Secara sosial ekonomi budaya ,kondisi ekosistem bentanglahan tersebut memberikan keuntungan sosial ekonomi karena mempunyai produktivitas dan keanekaragaman tinggi dengan tingkat budayanya yang selalu ditingkatkan tampak dari kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera.Secara ekologis wilayah ekosistem gunung Gede – Pangrango yang terletak dibagian hulu menjadi tumpuhan perkembangan wilayah ekosistem bentanglahan di daerah bawahnya.
Perjalanan kami tutup dengan suatu pengalaman yang sangat berharga bagi anggota tim baik dalam segi mental,fisik dan penguasaan materi.Maka sekembalinya ke jogja masih terselip banyak PR tentang laporan perjalanan yang harus segera dibuat sebagai suatu informasi untuk kegiatan pendakian gunung kedepannya.
Komentar : 2 Komentar »
Kategori : Uncategorized